VIVAnews - Kasus pengaturan hasil balapan Formula 1 yang dilakukan oleh Renault membuka satu fakta terbaru. Mantan pembalap sekaligus pelaku kasus yang disebut 'Crashgate', Nelson Piquet Jr.menguak fakta itu.
Piquet Jr.menyatakan kalau diancam akan diputus kontrak bila menolak menabrakkan mobilnya di Grand Prix Singapura tahun lalu. Ia juga menolak tuduhan kalau selama ini dirinya memeras Renault.
"Beberapa pihak menyatakan kalau saya memeras Renault demi meneruskan karir. Tapi kenyataannya lebih rumit dari itu," ujar Piquet Jr seperti dilansir Sporting Life, Senin 5 Oktober 2009.
"Di tiap balapan, situasi selalu sama dengan ancaman menghentikan kontrakku atau diperbarui untuk musim depan," tambahnya.
'Crashgate' merupakan kasus yang dilakukan Renault agar pembalapnya Fernano Alonso keluar sebagai juara di GP Singapura 2008. Saat itu Piquet Jr diperintahkan menabrak pinggir lintasan untuk membuat safety car keluar.
Keberadaan Safety Car ini membuat peserta lain tak bisa melakukan over taking. Situasi ini dimanfaatkan Renault untuk mendorong Alonso ke posisi pertama hingga akhirnya ia keluar sebagai juaranya.
Atas hal ini Renault dihukum dua tahun tak boleh terlibat di F1. Sedangkan bos Renault Flavio Briatore sebagai otak 'Crashgate' dilarang masuk ke F1 seumur hidup.
Kasus ini sendiri bisa terbongkar karena Piquet Jr. Kalau bukan karena pengakuannya pada Federasi Automobil Internasional (FIA), saat ini Renault masih bisa melenggang di arena F1.
"Saat ini saya hanya ingin mengerjakan pekerjaanku. Balap motor adalah hasratku dan saya harus membuktikan kalau saya layak berada di atas lintasan," ujarnya.