VIVAnews - Kasus pembunuhan yang menimpa Direktur Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen akhirnya ikut menyeret profesi caddy ke sisi negatif. Pemicunya adalah Rani Juliani, wanita yang diduga sebagai penyebab terbunuhnya Nasrudin.
Wakil Bendahara Persatuan Golf Indonesia (PGI), Fran H Djyaatmadja menilai perbuatan Rani bukanlah cerminan caddy secara keseluruhan. Sebaliknya, Rani hanyalah oknum yang kebetulan berprofesi sebagai caddy.
"Tak hanya di lapangan golf, kasus-kasus seperti ini bisa ditemukan di mana saja. Namun Rani itu hanyalah oknum dan tidak mencerminkan caddy secara keseluruhan," kata Fran saat dihubungi VIVAnews, Rabu, 6 Mei 2009.
Rani merupakan caddy yang bertugas di Padang Golf Modernland, Cikokol, Tangerang. Wanita yang juga berstatus mahasiswa ini diduga menjadi pemicu kasus pembunuhan yang menimpa Nasrudin.
Kasus ini semakin besar karena melibatkan oknum petinggi di KPK, pejabat kepolisian, dan juga pengusaha. Saat ini Rani yang merupakan istri siri Nasrudin sedang diamankan di sebuah tempat untuk kepentingan penyidikan.
Fran sendiri tidak membantah bila ada oknum caddy yang nakal. Bahkan tak hanya wanita, affair antar caddy dan pemain golf juga melibatkan caddy pria.
"Meski demikian, bukan berarti seluruh caddy itu sama. Kita harus lihat bahwa banyak caddy yang memang benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik. Bahkan ada yang jadi atlet," kata Fran.
Fran menambahkan, profesi caddy bukanlah profesi yang negatif. Sebaliknya, peran caddy sangat dibutuhkan oleh pegolf. Tenaga dan saran yang mereka berikan kepada pegolf tak jarang menghasilkan imbalan yang tak sedikit.
"Caddy-nya juara Indonesia Open 2007 Philipe Aquilar asal Chile, mendapat tip 5-10 persen dari total hadiah atau hampir mencapai 25 juta. Bukan karena dia cantik, tapi karena keterampilannya dalam memberikan saran kepada Philipe," kata Fran.