VIVAnews - Ketimpangan kekuatan jelas terlihat dalam laga antara tim IBL: CLS Knights Surabaya melawan tim Kobatama: Sahabat Semarang di Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro, Kuningan Jakarta, Jumat sore, 5 Maret 2010.
Alhasil, CLS unggul telak 92-23 atas Sahabat. Perolehan poin di tiap kuarter pun sangat timpang: 21-9, 45-13, 70-17 dan 92-23.
"Tim-tim Kobatama selalu takut duluan jika bertemu tim IBL. Seharusnya ini bisa menjadi motivasi," kata Amran, pelatih CLS.
Padahal, Amran sengaja memainkan banyak pemain muda. "Biar mereka belajar dan semakin banyak pengalaman," lanjutnya.
Tak aneh jika skuat muda CLS masih seringkali membuat kesalahan. Tentu saja, kesalahan ini lebih sedikit dari yang diperbuat Sahabat.
"Kesalahan ini misalnya soal passing. Untungnya, lawannya tak terlalu bagus. Jadi kesalahan itu tak bisa dimanfaatkan oleh lawan," ucap Amran.
CLS pun mencatat hasil unik di game ini. Arek-arek Suroboyo ini tak sekalipun mencatat raihan block shot.
Terpilih sebagai pemain terbaik (MVP) dengan produktivitas tertinggi yakni power forward Dwi Haryoko dengan 18 poin dan 6 rebound.
Tanpa Target
Dengan banyak memainkan skuat muda, CLS memang tak memancang target tinggi di turnamen ini. "Bahkan, bisa dibilang tanpa target sama sekali," sebut Amran.
"Bukan cuma di game ini, tapi untuk keseluruhan turnamen," tutur Amran.
Setelah melakoni laga pembuka ini, Tim Pelatih CLS berjanji akan memperbaiki kekurangan pasukannya. Fokus perhatian yakni pertahanan (defense) dan coba memperagakan permainan lebih cepat karena banyak diperkuat pemain muda.
Laporan: Djamila